bulan lalu, saya berkesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan Familiarization Trip yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan wawasan petugas TIC (Tourist Information Center) akan objek wisata yang ada di Jawa Timur, petugas TIC adalah ujung tombak informasi pariwisata jawa timur, dengan luasnya wawasan, kami dapat menyebarluaskan kepada seluruh dunia kalau JAWA TIMUR itu INDAH.
Hari pertama kunjungan pertama adalah menuju PUSLIT KOPI DAN KAKAO, Jember, Jawa Timur. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (disingkat Puslitkoka) adalah salah satu dari lembaga penelitian di Indonesia yang berada bawah naungan Lembaga Riset Perkebunan Indonesia – Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (LRPI – APPI) yang mendapat mandat untuk melakukan penelitian aspek agribisnis untuk komoditas kopi dan kakao, mulai dari bahan tanam, budidaya, perlakuan pascapanen sampai dengan pengolahan produk.
disini kami menyaksikan proses pengolahan produk kakao, mereka memberikan label produk coklat mereka dengan VICCO, singkatan dari Village chocolate company, karena menurut pengelola, produk yang mereka hasilkan adalah coklat desa, dimana coklat yang ditanam di wilayah pedesaan dengan memberdayakan masyarakat desa setempat. selain coklat batangan, produk olahan lainnya berupa bubuk minuman coklat, nata de cocoa, hingga sabun coklat.
kunjungan selanjutnya adalah Pantai Tanjung Papuma, masih berlokasi di Jember, Jawa Timur. Papuma merupakan singkatan dari PAsir PUtih MAlikan, karena memang pantai ini berpasir putih, berbeda dengan pantai yang lokasinya berada dekat dengan Pantai Tanjung Papuma, yaitu Pantai Watu Ulo yang berpasir hitam. Disamping itu ada batu malikan di pantainya yang berada di sisi barat. Batu malikan adalah lempengan batu-batu yang berada di dekat pesisir pantai yang bergerak sehingga menimbulkan bunyi kalau diterpa ombak. Kata malikan mungkin berasal dari kata dalam bahasa Jawa “malikan” atau “molak-malik” yang artinya bergerak bolak balik.
Tanjung Papuma terletak di selatan kota Jember dengan jarak sekitar 37 km. Tepatnya terletak di Desa Lojejer, Sumber Rejo, Kec. Ambulu. Untuk mencapainya bisa melalui kota Jember terus ke arah Ambulu dan ikuti papan petunjuk ke Watu Ulo / Papuma. Atau bisa juga dari arah Balung – Wuluhan – Ambulu – belok kanan dan cari arah ke Watu Ulo / Papuma.
kami berfoto di depan gerbang menuju pantai tanjung papuma, untuk informasi, jika menggunakan bis besar, bis hanya bisa mengantar sampai di depan gerbang ini, karena kondisi jalan yang tidak begitu lebar dan terjal, maka ada peraturan tidak diperbolehkannya bis besar menuju sampai di tepi pantai. karena itu, sebanyak 30 orang peserta fam trip harus naik ojek yang ada di sekitar lokasi. Tiket masuk menuju Pantai Tanjung Papuma tidak mahal dan sangat terjangkau.
Tujuan selanjutnya adalah Penginapan Margo Utomo di Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka menamakan diri Margo Utomo Agro Resort, Hanya 5 menit berkendara dari Stasiun Kereta Kalibaru, resort ini memiliki kamar-kamar tradisional yang didesain dengan teras dan dikelilingi tanaman hijau. Resor ini memiliki kolam renang yang indah dan spa.Margo Utomo Agro Resort terletak di pinggir kota Kalibaru. Resor ini hanya berselang 5 menit berjalan kaki dari perkebunan kopi, kakao dan karet mini dan berjarak 90 menit berkendara dari Bandara Domestik Rogojampi.
Tidak hanya menyediakan kamar untuk menginap, mereka menyediakan Tur agrowisata yang ada satu lokasi dengan penginapan, ada banyak tanaman yang di tanam di Kebun, Tanaman, Kopi, Salak, Vanili, Pala, mereka menyediakan berbagai macam makanan yang diolah dari bahan bahan yang berasal dari kebun mereka sendiri. menu makan rumahan dengan rasa bintang lima, rekomended banget. selain kebun, di Margo Utomo Agrowisata Resort, pengunjung dapat melihat peternakan sapi, dimana mereka mengambil susu segar dari peternakan sapi untuk konsumsi tamu hotel, kemudian diolah menjadi keju dan dipasarkan di Banyuwangi dan Bali.
berawal pada tahun 1943, dimana pemilik bernama Mr. H. R.M. Moestadjab mewariskan sebidang tanah perkebunan dan beberapa sapi dari Ayah Beliau, pada tahun 1975, harga produk perkebunan menurun drastis, kondisi yang sulit bagi beliau untuk menjalankan perkebunannya, lalu di tengah kondisi yang berat, Beliau mempunyai ide untuk konsep baru di bidang pariwisata, yang akhirnya disebut sebagai Agro Resort.
kami ditemani seorang Bapak yang memandu kami menuju perkebunan di Margo Utomo Resort, Asli Banyuwangi, namun entah kenapa, beliau kesulitasn menjelaskan dalam bahasa Indonesia, lalu kami bertanya, Bapak kenapa kok keliatannya ada yang aneh, lalu beliau menjelaskan kalau selama ini tamu yang dibawa untuk berkunjung ke perkebunan kebanyakan tamu asing, jadi beliau lebih nyaman menjelaskan dalam bahasa inggris karena terbiasa, lalu kami semua tertawa, dan mempersilahkan Bapak Pemandu menjelaskan dalam bahasa Londo. hehehe
Setelah berkeliling kebun dan peternakan di Margo Utomo Agro Resort, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Merah, banyuwangi. Pantai pulau merah adalah salah satu destinasi unggulan Banyuwangi,berada di desa Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Banyuwangi kearah selatan. Bila anda menggunakan mobil anda akan menghabiskan waktu dalam perjalanan bisa ditempuh hampir 2,5 jam. Bila anda menggunakan kendaraan umum , anda dapat memanfaatkan jasa angkutan umum dari terminal Banyuwangi, dan menggunakan bus jurusan Pesanggaran. Selanjutnya anda bisa munggunakan jasa ojek untuk sampai di pantai pulau merah.
Sebelum bernama pantai pulau merah, pantai ini bernama pantai ringin pitu. Ada dua versi yang mengukuhkan nama merah pada pantai ini. yang bertama karena warna tanah yang kemerah merahan, sementara versi yang kedua karena konon dari pulau merah yang ada dihadapan pantainya yang berjarak 100 meter, dahulu pernah terpancar cahaya merah sehingga akhirnya warga sekitar menamakan pantai pulau merah. Bukan itu saja yang menjadi ciri khas pantai ini, terletaknya bukit hijau cantik yang terdapat di seberang pantai. Menariknya kita dapat mencapai pulau ini ketika air surut dengan berjalan kaki yang hany berjarak 100 meter.
Tidak hanya pesona alam sekitar, gulungan ombak sejauh 3 km dengan tinggi mencapai 4 meter menjadi daya tarik dan destinasi baru bagi para peselancara pemula dan menengah. Hal ini telah dibuktikan dengan kejuaraan International Surfing Competition pada 2013 yang lalu dengan diikuti para surfer dari 20 negara yang dibuka langsung oleh menteri pariwisata. Kejuaraan yang dilombakan terdiri dari 3 kategori, yaitu kategori lokal,nasional dan internasional.
Satu lagi yang tidak kalah mencuri perhatian mata yang sayang sekali untuk dilewatkan, yaitu pemandangan saat matahari terbenam atau sunset . warna orange dengan kebiruan yang sangat cantik terbenam diantara bukit akan memanjakan mata kita yang menjadi pengalaman tak terlupakan.
Beberapa fasilitas di area pulau merah sudah cukup memadai dengan area parkir yang cukup luas, homestay untuk bermalam di area Pantai, dan beberapa warung – warung untuk bersantai menikmati pemandangan Pantai pulau Merah.
perjalanan selanjutnya yang kami semua tunggu tunggu, yaitu menuju Taman Nasional Meru Betiri, Pantai Sukamade. Jarak Pantai Sukomade kira-kira 97 km ke arah barat daya dari kota Banyuwangi. Pantai Sukamade merupakan pantai yang tenang dan indah. Pada mulanya pantai ini ditemukan oleh Belanda pada tahun 1927. Karet, kopi dan coklat ditanam di tanah perkebunan seluas 1200 hektar. Sukamade merupakan hutan lindung alam di Jawa Timur yang berhubungan dengan penangkaran penyu. Perjalanan malam hari ke pantai Sukamade menjadi tak terlupakan.
Kami dibimbing oleh para pemandu penjaga hutan yang berpengalaman untuk melihat penyu yang mendarat ke pantai dan bertelur di pantai pasir. Penyu betina biasanya bertelur hingga ratusan yang diletakkan di dalam pasir di pantai. Penyu betina biasanya mulai mendarat di pantai jam 07.30 malam dan kembali ke laut pada jam 12.00 malam hari. Bulan Nopember hingga Maret adalah musim penyu bertelur, kami berharap besar dapat melihat penyu malam itu. pada jam 8 malam, kami dibimbing oleh Pemandu menuju pantai dengan jarak sekitar 1km, dengan menggunakan penerangan lampu senter. sebelumnya, pemandu memberikan informasi yang sangat penting, yaitu : pada setiap kunjungan, pengunjung hanya diperbolehkan melihat aktifitas 1 ekor penyu, sepanjang jalan menuju ke pantai, pengunjung dapat menyalakan senter untuk menerangi jalan yang masih alami seperti jalan hutan, saat di titik terakhir jalan hutan, tidak diperbolehkan adanya lampu penerang apapun, hanya lampu yang dibawa oleh pemandu saja yang boleh dinyalakan.
malam itu ada sekitar 50 orang pengunjung baik dari lokal maupun mancanegara dengan tujuan yang sama, yaitu "ngintip penyu bertelur". Pemandu berkali kali memberikan informasi, pengunjung boleh mengambil foto penyu namun tidak diperbolehkan menggunakan blitz karena dapat merusak retina mata penyu. pengambilan foto hanya diperbolehkan menggunakan lampu senter yang dibawa oleh pemandu, posisi pengambilan foto pun di atur harus berada di belakang penyu.
kami berjalan menuju pantai pukul 7.30 malam, butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di pinggir pantai, ada 5 orang pemandu yang bertugas untuk mencari spot dimana penyu berada, pengunjung dipusatkan pada 1 tempat untuk menunggu informasi dari pemandu saat ada penyu, baru semua menuju spot tersebut. kami menunggu hinggal pukul 11 malam, setelah puas melihat bintang, akhirnya beberapa dari kami tertidur pulas di atas pasir pantai.
setelah pukul 11 malam, ada pemandu yang memberikan informasi kalau ada aktifitas penyu, kami semua bergegas menuju lokasi, sekitar 1km. sayangnya, penyu tersebut sudah bergerak menuju pantai, beberapa pengunjung bergegas untuk mengambil foto di tengah malam gelap gulita tanpa boleh menggunakan blitz, hanya lampu senter penerang yang dibawa oleh pemandu, sayangnya, masih aja ada yang bandel pake blitz, sampai pemandu harus secara tegas memperingatkan "kalau masih ada yang menggunakan blitz, maka pengamatan tidak akan dilanjutkan".
esok paginya, kami diajak oleh pemandu kembali ke pantai untuk melepas tukik kembali ke laut lepas, tukik adalah anak penyu. Setelah penyu bertelur di pantai, petugas penyelamat datang untuk memindahkan telur telur penyu tersebut ke penangkaran, untuk menghindarinya dimakan oleh pemangsa alami, sehingga diharapkan jumlah penyu dapat meningkat. setelah penyu menetas, sekitar 3 sampai 7 hari anak penyu atau tukik dilepaskan menuju laut lepas. Dari 1000 ekor anak penyu yang dilepas, hanya sekitar 1 ekor yang setelah dewasa kembali ke Pantai Sukamade untuk bertelur.
pengalaman yang berharga untuk kami semua, untuk lebih menghargai alam, banyak sekali informasi yang diberikan oleh petugas dan pemandu tentang berbagai upaya penyelamatan penyu yang sudah dilakukan oleh petugas di Pantai Sukamade.
Jalan ke sukamade sangat menantang untuk dijelajahi. Sepanjang jalan untuk mengunjungi tempat ini, para pengunjung bisa berhenti di pantai Rajegwesi. Jangan juga sampai melewatkan Teluk Hijau, sebuah teluk hijau dengan karang terjal yang indah mengitari. Berpesiar di pagi buta untuk melihat binatang-binatang yang merumput di padang rumput juga mengesankan. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang masih alami yang harus anda tahu di ujung timur pulau jawa.
Pantai Sukamade merupakan salah satu obyek wisata yang terdapat di zona pemanfaatan intensif TNMB yang sangat potensial untuk kegiatan ekowisata. Atraksi yang dapat dilakukan adalah pengamatan penyu bertelur, pelepasan tukik, bird watching, camping, pengamatan rafflesia, dan berkano.
Pantai Sukamade merupakan habitat tempat penyu bertelur. Di tempat ini wisatawan dapat menyaksikan secara langsung aktifitas penyu naik ke pantai, bertelur maupun hanya sekedar memeti. Di tempat ini juga terdapat penetasan semi alami untuk menetaskan telur-telur penyu yang telah dikumpulkan oleh petugas. Wisatawan dapat turut aktif dalam usaha konservasi penyu dengan mengikuti kegiatan pelepasan tukik ke laut setelah ditetaskan pada penetasan semi alami.
Fasilitas yang terdapat di lokasi ini antara lain: Pondok Wisata, Camping Ground yang dilengkapi dengan pendopo untuk ruang pertemuan, Shelter, jalan trail wisata, information centre, laboratorium dan pondok kerja.
Obyek wisata lain yang ada di Pantai sukamade adalah Hutan mangrove yang terletak di muara timur Pantai Sukamade. Sungainya dapat dipakai berkano pada sore hari sambil melakukan pengamatan burung (Bird Waching) seperti Roko-Roko, Elang laut, Dara Laut dan masih banyak lagi burung burung yang dapat diamati, hal ini biasanya dilakukan sambil menunggu Sunset.
Untuk menuju ke sana, anda dapat menggunakan kendaraan umum atau pribadi. namun perlu diingat medan yang berbukit-bukit dituntut untuk menyesuaikan jenis kendaraan anda. Dari Kota Banyuwangi menuju ke kota Pesanggaran (60 km) kemudian dilanjutkan ke Sarongan (20 km) dengan angkutan umum atau truk. Sarongan-Rajegwesi-Sukomade (17 km). Tersedia Cottage dan Camping Ground untuk menginap bagi para wisatawan.
kami menggunakan jeep menuju ke cottage, perjalanan sekitar 2 jam dari Sarongan, kondisi jalan masih sangat alami, sangat cocok untuk kendaraan off road, benar benar menantang. kami melewati anak sungai menggunakan jeep, sungguh memompa adrenalin. hari itu kami di dampingi jeep milik mas ari, mas ari dapat di hubungi di nomer 082143250569, beliau orang yang ramah dan supir off road yang handal.
dalam perjalanan kembali, kami mengunjungi pantai Teluk Hijau dan Pantai Rajegwesi. sungguh pengalaman yang tak terlupakan.
Jawa Timur Indah... Yuk Traveling











Tidak ada komentar:
Posting Komentar